Semalam saya menerima sms yang menyatakan bahwa guru teladan saya ketika SMP saat ini tengah koma di rumah sakit karena pembuluh darah di otaknya pecah. Saya terpukul sekali mengingat beliau adalah orang yang berpengaruh besar dalam pendidikan saya.
Kami memanggilnya Pak Nandang, nama lengkapnya Nandang Rochman. Beliau guru matematika saya ketika duduk di bangku SMP. Tidak hanya cara mengajarnya yang membuat saya jatuh cinta dengan pelajaran matematika hingga saat ini, tapi kesederhanaan dan kejujurannya yang membuat saya merasakan makna “pahlawan tanpa tanda jasa” dari seorang guru. Belum pernah saya bertemu seseorang yang amat berdedikasi dengan pekerjaannya.
Beliau sempat berangkat mengajar dengan menggunakan sepeda, bertahun-tahun beliau menjalaninya tanpa mengenal lelah. Hingga Pak Nandang bisa mengumpulkan cukup rezeki baru beliau membeli motor. Namun apapun kendaraannya, tidak mengubah rasa cinta beliau menjadi guru.
Saya ingat beliau begitu menekankan pentingnya upacara bendera serta sikap sempurna selama upacara berlangsung, tidak segan-segan beliau menghukum anak-anak yang nakal dan membuat ribut selama upacara. Dahulu saya sangat kesal dengan kegiatan upacara, apalagi kalau bukan karena kepanasan. Setelah saya lulus, tanpa sadar saya terbiasa mengikuti upacara dengan serius dan khidmat. Saya paham bahwa itu menumbuhkan kedisiplinan dalam diri kita. Berdiri tegap selama upacara mencerminkan seteguh apa kita mencintai negara ini. Dari hal-hal kecil seperti itulah beliau mengajarkan kita tentang menghargai negara.
Pak Nandang juga tidak membiarkan bila salah seorang dari murid-muridnya belum paham materi yang diajarkan, beliau tidak segan mengulang materi itu hingga kita semua paham. Beliau mendatangi meja kami satu per satu untuk menanyakan kesulitan kami. Rasanya tidak ada satupun dari kami yang membenci pelajaran matematika selama diajar beliau. Kadang beliau menghibur kami di kelas dengan menyanyi diiringi gitar. Beliau jarang saya jumpai berada di ruang guru, seringnya ia dikelilingi murid-murid, di kantin, di depan kelas, di ruang OSIS, di pinggir lapangan, entah itu menanyakan pelajaran, mengobrol atau bernyanyi bersama.
Terakhir saya meninggalkan bangku SMP, saya ingat beliau memanggil saya sejenak. ” kamu jangan sombong ya setelah lulus. Ajarkan teman-teman yang kesulitan dalam pelajaran, kamu punya kemampuan lebih harus menolong orang. Kamu juga harus punya empati sama orang lain, kamu kan suka menulis. Kita harus memahami orang lain, memahami penderitaannya, memahami kesulitannya. Dengan begitu kamu bisa menulis dengan baik.” Saya hanya tertegun mendengar nasihat beliau saat itu. Beliau mengatakannya dengan lembut dan serius. Orang-orang yang memahami dan mencintai dunia menulis tahu betul pentingnya empati dalam membuat tulisan. Selama ini hanya ibu saya yang selalu mengingatkan hal tersebut karena ibu juga suka menulis. Saya tidak menyangka Pak Nandang bisa mengatakan hal serupa, apalagi kalau bukan karena beliau memahami apa yang saya lakukan. Beliau tidak hanya mengajar dan mendidik, tapi juga memahami murid-muridnya.
Nasihat itulah yang membekas dan membuat mata saya berkaca-kaca ketika menengok beliau di rumah sakit. Di sana penuh dengan alumni yang datang untuk menengok beliau. Alumni dari angkatan 1990an hingga murid-muridnya yang sekarang. Bahkan orang tua murid juga berdatangan turut membuat sesak lorong rumah sakit. Pak Nandang adalah sosok yang tidak pernah tergantikan dalam benak murid-muridnya, tidak lekang dimakan waktu. Beliau membuat saya terinspirasi, mungkin kita merasa kesulitan mempertahankan dedikasi kita terhadap pekerjaan, mempertahankan prinsip hidup, bertahan dalam kebaikan. Namun semua itu terbayarkan ketika kita melihat seberapa banyak orang yang hadir membantu ketika kita kesulitan. Pak Nandang menjadi bukti nyata bahwa bukan materi yang membawa kebahagiaan hidup, melainkan dedikasi dalam hidup yang mengantar kita menuju kebahagiaan.
you’re the best teacher. moga aku bisa menjadi guru penuh dedikasi sepertimu pak. kangen slalu




yaa saya setuju dengan semua yg diungkapkan …. samapai detik ini saya merasa ada yag kosong dalm jiwa ini sepeninggalnya